[email protected] +1234567890 242 West Main street, Ohio

Ethno Spa Peperenian, Sebuah Metode Kebugaran dan Ritual Kesehatan Pribadi Lahiriah dan Batiniah Adat Sunda

Salah satu naskah kuna asal Peperenian Sunda.
Salah satu naskah kuna asal Peperenian Sunda.

Ayonews, Jakarta
Masyarakat Sunda memiliki budaya kebugaran tersendiri. Tradisi yang sudah ada sejak turun temurun menunjukkan bahwa masyarakat adat Sunda sudah terbiasa dalam menjaga kesehatan tubuh. Dalam ethno spa, tradisi Sunda ini dikenal dengan Peperenian.

Dalam kamus bahasa Sunda Satjadibrata (2005), Peperenian itu memiliki makna; 'naon-naon anu disimpen'. Artinya berbagai hal yang tersimpan. 

Dalam konteks ini dijelaskan bahwa termasuk ethno wellness yang masih tersimpan dalam memori kolektif masyarakat atau pustaka budaya. Ethno wellness knowledge masih tersimpan dalam memori kolektif masyarakat atau pustaka budaya lokal.

Pengetahuan ethno wellness ini berkaitan dengan  pengetahuan perspektif etnik (Sunda) dengan pengetahuan kebugaran, metode, ritual dan ciri-ciri kesehatan dari manusia.

"Baris dipaké dina waktu anu kacida perluna. Artinya akan digunakan dalam waktu atau kondisi yang sangat diperlukan sekali," ujar Antropolog dari Universitas Padjadjaran, Bandung  dalam sebuah event kegiatan Indonesian Wellness Tourism International Festival (IWETIF) beberapa waktu lalu.

Menurut Ira, yang dimaksud adalah sesuatu atau berbagai hal yang bisa sewaktu-waktu atau dalam skala waktu yang berkala, sesuai kebutuhan akan digunakan ketika kondisinya sangat dibutuhkan. 

"Dalam konteks ethno wellness knowledge sebagai Peperenian, maka berkaitan dengan berbagai pengetahuan perspektif etnik (Sunda) yang berkaitan dengan pengetahuan kebugaran, metode, ritual dan ciri-ciri kesehatan dari manusia yang masih dianggap penting dan bisa digunakan sewaktu-waktu atau sesuai kebutuhan secara berkala," paparnya.

Ira mengungkapkan, dalam budaya Sunda ada konsep moral guidance (petunjuk moral). "Dalam berbagai pepatah-petitih yang sarat makna moral dan dalam frase bahasanya berkaitan dengan unsur alam," terangnya. 

Kemudian, lanjut Ira, ada berbagai uga atau cacandran atau pertanda perubahan zaman yang diungkapkan dalam rangkaian kalimat seloka yang mengandung unsur alam.

"Istilah uga bagi masyarakat Sunda sudah dikenal sejak zaman kerajaan-kerajaan di daerah Jawa Barat masih hidup dan berjaya," tambahnya.

Sementara itu, Antropolog dari Universitas Indonesia, Jajang Gunawijaya mengungkapkan bahwa Peperenian Sunda juga berkaitan dengan lingkungan alam. 

"Orang Sunda percaya bahwa alam memberikan sumber kehidupan. Selain memanfaatkan alam sebagai sumber kehidupan, manusia juga memelihara dalam berbagai tradisi," katanya. 

Dengan demikian, jelas Jajang, sikap manusia Sunda yang sadar memelihara alam agar terjaga secara harmoni. Karena itu, menuntut mereka akan kesehatan lahiriah dan batiniah dari dalam individunya. 

"Dalam menjaga kesehatan pribadi lahiriah dan batiniah, sebagai upaya menjaga kebugaran diri dalam budaya Sunda sebagai “jagat leutik” (dunia kecil). Lalu  terimplementasikan dalam merawat kelestarian alam sekitar sebagai “jagat gede” (dunia besar)," terangnya.

Jajang mencontohkan beberapa pepatah petitih atau peribahasa terkait dengan menjaga kelestarian alam. “Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak, artinya gunung tidak boleh dihancurkan, dan lembah tidak boleh dirusak. Contoh Uga  Kabuyutan Cipaku Darmaraja Sumedang: “Lemah Sagandu Diganggu Balai Sadunya” (Apabila Kabuyutan Cipaku Diganggu Bencana Bagi Dunia). 

"Percaya atau tidak, uga ini dianggap terbukti. Manakala kawasan proyek waduk Jatigede ini dipaksakan untuk tetap dilakukan penggenanganan, maka sebelum dan setelah penggenangan terjadilah berbagai peristiwa bencana alam dan wabah pandemi Covid-19, khususnya di Indonesia," cetus Jajang. 

Jajang menambahkan, untuk mendapatkan pengetahuan ethno wellnes Sunda Lama bisa didapat dari beberapan naskah Sunda Kuna di antaranya, naskah Sunda Kuno Carita Raden Jaya Keling (Kropak 407), naskah Sunda Kuno Pitutur Ning Jalma (Kropak 610), naskah Dalem Pancaniti (1834-1862), naskah Sunda  Kuna  Sanghyang  Sasana  Maha  Guru (Kropak  621).

Dalam kedua naskah Sunda kuno Carita Raden Jaya Keling (Kropak 407) dan Pitutur Ning Jalma (Kropak 610) memiliki persamaan isi, yaitu menerangkan bahwa baik perempuan maupun laki-laki dalam menjaga kebugaran atau kesehatan tubuhnya harus melalui proses “mengenal akan diri pribadinya” atau dikenal dalam istilah Sunda yaitu “kudu wawanohan jeung awak.” 

"Jadi tidak sebatas menjelaskan tentang hal-hal unsur jasmaniah tubuh saja. Tapi Peperenian ini juga menjelaskan tentang aspek “kejiwaan dan spiritual” yang melingkupi keberadaan jasmani manusianya," tuturnya. 

Sabhira