[email protected] +1234567890 242 West Main street, Ohio

Padahal Mendukung Pemerintah dalam Upaya Pencegahan Covid-19, Tapi Sampai Kapan Izin Industri Spa Dibekukan?

Founder Essentia Spa Academy, Agnes Lourda Hutagalung saat panen kangkung hidroponik sebagai program ketahanan pangan selama pandemi Covid-19. (Haikal)
Founder Essentia Spa Academy, Agnes Lourda Hutagalung saat panen kangkung hidroponik sebagai program ketahanan pangan selama pandemi Covid-19. (Haikal)

Ayonews, Jakarta
Spa atau kegiatan kebugaran tubuh sebenarnya adalah salah satu industri yang bisa membantu pemerintah dalam pencegahan penularan virus Covid-19. 

Sebab, dalam praktik spa, ada treatment aromaterapi herbal yang dilakukan dengan cara inhalasi melalui hidung. Kemudian  diteruskan ke tenggorokan, lalu ke paru-paru.

"Beberapa penelitian menyebutkan bahwa menghirup uap eukaliptus atau yang sering dianggap serupa dengan minyak kayu putih dapat meringankan gejala ringan pasien Covid-19, " terang Founder Essentia Spa Academy, Agnes Lourda Hutagalung mengatakan di Jakarta, Jumat (25/2/2022). 

Menurutnya, kegiatan seperti ini  juga dilakukan oleh industri spa. Sebab, dalam treatmentnya, ada proses agar tubuh kembali bugar melalui aromaterapi.

"Masyarakat sebenarnya tidak perlu takut untuk datang ke tempat spa kesehatan.  Karena industri spa kini telah menerapkan pedoman CHSE (clean, healthy, safety, enviroment)," ungkapnya. 

Ironisnya, lanjut pakar kecantikan dan kesehatan ini, masalah yang dihadapi dalam industri spa dalam dua tahun terakhir  adalah izin yang tak diberikan oleh pemerintah di Jakarta.

Dia menduga, pemerintah selalu menyamaratakan industri spa kesehatan dengan industri spa sebagai kedok prostitusi. 

"Industri spa yang benar-benar memberikan treatment positif dalam kesehatan menjadi ikut terdampak, ” keluhnya. 

Dengan alasan tersebut, Lourda menegaskan,  seharusnya pemerintah tidak punya alasan untuk tidak memberikan izin kepada industri spa dalam menjalankan usahanya. 

Apalagi, sambungnya, di tahun 2022 ini, Indonesia ditunjuk sebagai penyelenggara G 20. 

Seperti diketahui, kegiatan ini merupakan  forum utama kerja sama ekonomi internasional yang berisi 19 negara dan 1 lembaga Uni Eropa. 

"Seharusnya industri spa Indonesia dapat bersaing di kancah internasional dan menjadi tempat yang tepat untuk mempromosikan spa tradisional atau ethno spa di mata dunia," tegas Lourda. 

Padahal, ucapnya, ajang internasional itu seharusnya jadi peluang untuk membangkitkan serta mengenalkan ethno spa ke mancanegara. 

"Momentum ini sudah di depan mata, namun hingga saat ini izin masih dibekukan. Jadi, mau sampai kapan?" tandasnya.